About this blog



This blog is contains (20%) unusual (30%)unimportant social tips ,(20%) unnecessary things ,(10%) poem , and(20%) short story
You are not forced to give any comment or to be folower >.0
If u follow my blog I'll definitely follow you back
I do not claim any pictures that posted in my blog

* molten * yummy * creamy* choco * cake *
Hi, welcome to my blog * enjoy your blog walking *

.

This month special event




2
2 dec "Happy mothers day" and 25 dec "Merry christmas!!"
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Agustus 2011

Tiga Pertapa

sudah lama saya gak nulis cerpen yang berkaitan dengan human interest dan teologi << ini gak pernah
baik, kalo gitu aku mau mulai nih... nulis ide dadakan...

===

Alkisah ada 3 orang pertapa yang pergi bertapa ke sebuah gunung karena disuruh oleh guru mereka. Selain itu, mereka ingin bertapa untuk membuka jalan masuk surga bagi mereka. Dan tidak lupa untuk menempa diri mereka juga harus menahan godaan dan hawa nafsu masing2.

Mereka pun memulai perjalanan. Sudah berpuluh2 kilometer mereka berjalan.Namun mereka tidak merasa lelah karena saling menghibur satu sama lain. Sebenarnya niat mereka sangatlah kurang.. mereka hanya ingin menjalankan perintah guru mereka dan segera pulang. Karena sebenarnya ada hal yang mengikat ketiga orang ini dan membuat mereka tidak bisa meninggalkan hal duniawi itu yaitu nafsu mereka sendiri...

Jumat, 19 Agustus 2011

Kontrak Neraka

hanya berdasarkan imajinasi.. , sama sekali bukan berdasarkan pengalaman empiris
==============================================
Duuh....
aku mau mati... mau mati.... mau mati....
serasa nggak ada kalimat lain di otakku sekarang, kecuali
"aku mau mati"

(1 jam yang lalu saat ulangan fisika)

aku tidak bisa mengerjakan ini.... payah
yang aku bisa kerjakan hanya 50% saja... aku akan remidi
kalau aku nggak tuntas dan harus remidi.... aaah yang benar saja!
--

memang kedengaran gila... tapi satu ulangan remidi akan berdampak padaku...
apalagi fisika, karena aku harus masuk jurusan IPA
aku stress.... tak bisa konsentrasi pada pelajaran.
Aku mengaduk2 isi kotak pensilku, kemudian mengambil sebuah cutter..
tapi... tidak, masa aku harus bunuh diri dengan tidak mengubah keadaan seperti ini?

"Vyl , kenapa?" tanya temanku, James yang tiba2 ada di sampingku
"a..ah.. ng nggak kenapa2 kok" kataku. Eh, masa aku harus bilang kalau aku mau bunuh diri.
".... kamu bisa cerita... tampaknya kamu lelah" katanya iba
dia tahu? ngg... coba aku cerita saja.. mungkin nggak ada salahnya juga..
....
"ooh.... jadi kamu ingin menghindari remidi?" katanya
"i..iya, misalnya dengan vodoo si guru atau apalah" meski aku bukan atheis, aku tidak tahu dari mana ide ini muncul.
".... aku punya ide yang lebih baik Vyl" katanya tersenyum licik "vodoo tidak dapat digunakan berkali2, lebih tepatnya tidak efisien."
Ia melanjutkan " tapi jika kamu minta kamu menjadi pintar...., kamu bisa"
"caranya?"
"pergilah ke gereja (nama gereja setan) dan minta petunjuk di sana"
Apa? gereja setan? tidak... aku tidak mau... 
tapi meskipun aku berpendapat masalah di bumi hanya sementara.... ketakutanku mendorongku pergi ke gereja itu

Jumat, 12 Agustus 2011

Kirius dan bayangnnya

spoiler


mencoba "different story style"



Kirius dikenal sebagai anak yang "biasa2 saja" .Baik tapi tidak terlalu baik (dalam artian jika ia mau menolong, tidak mengabaikan dirinya juga), lumayan pintar (tidak terlalu pintar, namun tidak payah juga), tapi soal ramah dia sangat..sangat ramah.. Dia selalu tersenyum hingga orang2 mengira dia jarang punya masalah.
Semua.. kecuali aku..

Langsung saja, sebenarnya aku punya kemampuan interpersonal yang lebih dari orang lain.
Kemampuanku adalah ketika melihat mata seseorang, aku bisa langsung mengetahui kondisi hatinya (bukan liver). Apakah hati itu terang, lembut, atau luka..
Aku juga bisa tahu apa yang dia pikirkan dan gumamkan...
tapi biasanya aku bersikap biasa saja agar tidak ada yang tahu tentang hal ini

"Tha, kamu udah ngerjain trigono?" tanya Kirius..
meskipun aku baru kenalan dengan dia kemarin, tapi sepertinya kami sudah akrab
"aah.. belum.. duh gimana nih.. kamu udah?"
dia senyum2 payah sambil menunduk " aku juga belum..."
benarkah? benarkah kamu sesantai itu? ....
Aduuh gimana ini? aku sebenarnya sama sekali gak ngerti trigono... aku juga nggak les.. aduuh..
anak ini... padahal dia panik... tapi tetap tegar... pikirku
"ya udah Kir, kita kerjain sama2 saja.. kan lebih cepat :)"
"benar?"
aku mengangguk
"makasih" katanya..
syukurlah... syukurlah :D padahal aku udah bingung harus gimana... makasih banyak Tabitha
aku terdiam... ia benar2 tegar...

yah.. sebenarnya seperti yang kukatakan.. Kirius itu pintar.. namun dia hanya mengerti rumus2 dasar dan dia tidak tahu rumus2 apa yang harus dia pakai untuk setiap soal... misalkan setelah pakai rumus pitagoras, kemudian harus mencari sin tan cos dengan... yah seperti itulah...

== waktu istirahat ==

Kirius duduk2 di kelas... entah.. seperti memikirkan sesuatu..
"Kir , mau ke kantin?" tanyaku
" Nggak usah Tha... kamu aja :)" katanya perlahan
kembali aku mendengar "suaranya yang asli"
Ah.. seandainya aku hari ini bawa uang... duuh aku lapar banget
hmm.. aku benar2 nggak ngerti kenapa Kirius harus bersikap seperti ini... seperti tidak ingin orang lain tahu masalahnya..
"Oke.. ng.. kalo gitu aku duluan " kataku..
Aku ke kantin dan beli makanan.. tentu saja buat Kirius juga..
kemudian aku kembali ke kelas.

"nih.. muffin cokelat... :)" kataku
"hah? buat apa Tha? aku nggak mau" katanya
"sudahlah ambil saja"
duuh.. lapar berat nih... aku ambil gak yah.. nggak enak sama Tabitha...
confused terpaksa pake jurus andalan nih...
" Sudah nggak apa kok... kalo enggak aku nggak mau temenan sama kamu lagi... " (apa2an kalimat ini)
"hehe.. ya udah.. makasih ya Tha.."
makasih.... untung ada kamu... enak banget muffin ini... makasih ya Tha..
tuh kan... kamu benar2 lapar... kenapa kamu berpura2 seperti ini?

===

hingga suatu saat aku sudah bosan dengan "topeng" nya..
aku bermaksud mencari alasan mengapa Kirius terus2an menyembunyikan suaranya yang sebenarnya...

"Kirius, sebentar aku mau bicara "
"ya.. kenapa?"
"kamu seperti selalu menyembunyikan sesuatu.. kenapa?" tanyaku
terus terang sekali...
"Oh ya? nggak tuh?"
dan seperti biasa.. kenyataan berkata lain
kenapa cewek ini tahu? kenapa dia tahu kalau aku selalu menyembunyikan kondisi asliku?
sebenarnya aku menyembunyikan kondisi asli karena aku tidak bisa mengatakannya pada siapapun.. bukannya aku tidak mau... tapi tak ada seorangpun yang bisa mendengarkan maksudku sepenuhnya dan itu merepotkan...
terutama orang tuaku... ah ya mereka...
dulu aku sempat melaporkan segala yang kualami pada mereka... nyatanya?
ah sudahlah.. sudah... aku tak mau mengingatnya lagi... kenangan sial itu..
kalaupun Tabitha mau tahu, masa akan kujawab begini..?
ooh... jadi inilah penyebabnya... penyebab Kirius seperti ini...

"ah sudahlah.. tak usah kamu pikirkan :) .. dan kalau ada apa2 langsung ngomong yah... kita kan teman.." kataku
ia tersenyum..
ah benar juga Tha... kalau sama kamu mungkin aku bisa cerita yah... apalagi kamu nggak pernah menceramahiku ini itu... keberadaanmu menyenangkan Tha
Hah.. dasar kirius....
kamu selalu menyembunyikan bayanganmu sendiri...
sudahlah..

"Oh ya... ngomong2 buku Bahasa Inggrisku ketinggalan di rumah" kata Kirius kaget
"Hmm, kita bisa pinjam dari kelas lain kan? sebelum istirahat selesai?" kataku menenangkan "ayo"
"benar juga" katanya senang "makasih Tha"
aku tersenyum.. yah dia sudah lebih baik sekarang..
mungkin besok ia akan menceritakan banyak hal lain padaku...

:)

Rabu, 03 Agustus 2011

Hasrat pembunuh yang keluar..

Bisik2 memenuhi koridor sekolahku..
“Si pembunuh datang.. jangan dekat2 dia atau kamu juga akan dibunuh”
“Rinn pembunuh? Apa maksudmu..”
… ….
Apa?.. Aku? ..Pembunuh? apa yang kalian bicarakan?
… ….
“Hei Chi” kupanggil temanku dan menariknya ke toilet tanpa memedulikan tatapan2 tajam di sekitarku..

“Apa maksud mereka aku pembunuh? Mereka bahkan tidak punya bukti untuk menuduhku” kataku emosi
Chi hanya terdiam.. kurasa dia tegang dan takut
“ Chi ! jawab!” bentakku
Chi semakin pucat
“Aah.. ma.. maaf..” kataku kaget.. aku terlalu terbawa emosi
Wajar saja, karena aku tidak suka atas penuduhan tidak berdasar terhadapku
“Rii.. kamu belum baca Koran? Bagian headline” katanya perlahan..
Dia menyodorkan sebuah kertas yang dilipat2 .. segera kuambil kertas itu dan kubuka
“I.. ini… mustahil.. “ kataku terbata bata

“RINN, GADIS BERUSIA 16 TAHUN MEMBUNUH SEORANG PELAJAR”

Jantungku berdetak kencang.. aku takut..
Tiba2 kamar mandi menjadi hening.. yang ada hanya suara tetesan air
KRIIIING
Bel masuk sekolah telah berbunyi
kami hanya berjalan menuju kelas dalam diam..
***
Sepanjang pelajaran aku tak bisa berkonsentrasi.. aku tak habis berpikir.. bagaimana bisa? Aku bahkan tidak pernah mengucapkan kata2 kotor.. tapi sampai membunuh? Ini keterlaluan…
“Rinn? Kamu sakit?” Tanya guruku..
“I.. iya , Bu.. rasanya kepala saya pening” kataku
“kamu bisa beristirahat di UKS, jangan memaksakan diri” katanya.
Aku berjalan menuju UKS dan karena tak ada orang aku langsung tidur di sana
“hai.. pembunuh”
Siapa? Sial.. kakak kelas yang menyebut aku pembunuh tadi
Aku bangun.. tapi kepalaku terasa semakin pening
Sial, kenapa ini?
Dia tertawa “mana keberanianmu pengecut? Kamu hanya berani membunuh kalau malam?” tanyanya mengejek “hahaha dasar pengecut, cewek kayak kamu tuh nggak dibutuhin tau”
Tiba2 kepalaku seperti meledak… dan aku tak ingat apa2 lagi..
….

“Ap…??”
Mataku terbelalak..
“apa ini? Mengapa aku memegang pisau UKS? Pisau ini berlumuran darah? Kenapa? Kenapa inii?” tanyaku panik..
Aku memperhatikan sekitar .. banyak darah terciprat di mana2..
Dan ketika aku melihat ke bawah
“UWAAAAAAAAA”
Kakak kelasku yang tadi telah menjadi mayat di depanku…

Tolong..
Aku menggila… aku mendobrak pintu UKS dengan keadaan bercipratan darah
Tolong.. tolong.. mengapa? Mengapa aku bisa melakukan ini?
Aku berlari melintasi lorong, menuju kelasku
Aku terus berteriak “tolong” namun tak ada yang menjawab..
Tergesa2 aku memasuki kelas .. semua kaget
“Rinn..” semua temanku terperanjat
“Tolong…”
Aku hanya sempat mengucapkan sepatah kata dan setelah itu aku tak ingat apa2 lagi..
***
Esoknya aku dipanggil ke belakang sepulang sekolah oleh 5 orang kakak kelas.. sepertinya mereka teman kakak yang kubunuh kemarin..
“Kami hanya menanyakannya sekali, mengapa kemarin kamu membunuh Lulu?”
“A.. aku tidak tau..”
“Jawab!” salah seorang dari mereka sambil menjambak rambutku
“Atau kalau kamu tidak mau menjawab..” kata seorang yang lain..
“Kami yang akan membunuhmu”
Deg… deg.. jantungku berdetak makin kencang
Keringat dingin mengalir…
Hanya satu yang terbayang di otakku

MEMBUNUH ATAU DIBUNUH

Rasa sakit yang luar biasa memukul kepalaku
Sama seperti kejadian di UKS itu..
“UWAAA”
Tidak.. aku lepas kendali…
Kukeluarkan pisau UKS tadi dan kutusuk tangan kakak yang menjambakku
“Sialan!” katanya kesakitan
Hei, apa ini? Kenapa aku jadi senang?
“Habisi dia! Dia hanya anak kelas sebelas” kata seorang yang lain
2 orang mengepungku. Aku berhasil menusuk seorang yang satu tapi gagal menangkis yang seorang lagi.
Buaak
perutku dipukul
Uhukk..uhuk.. aku terjatuh
emosiku meningkat, bergelojak.. samar2 nafsu pembunuhku muncul
Kuayunkan pisauku tepat ke dadanya..
….
Ia tumbang dan tak bangun lagi
“ Sa? Saaa??! Ce.. cepat habisi dia! Makin lama dia semakin menjadi pembunuh sungguhan” teriak pemimpin mereka panik
“Pe.. percuma Nat… ki.. kita lari saja” kata 3 orang lain..
“huuh.. awas saja kalian.."katanya "Kamu juga jangan belagu ya sama kakak kela..”
Belum selesai kata2nya.. ia juga tumbang ke tanah
Senyumku tersungging
Entah mengapa.. aku senang melihat darah segar yang mengalir di tanganku ini..
Aku pun mengejar 3 orang sisanya dan membunuh mereka, agar tak ada saksi dari perbuatanku..
Ah biarlah sama saja.. pasti cepat atau lambat aku akan ketahuan..

Langit mulai mendung.. semakin gelap
Hujan turun perlahan.. bertambah deras.. seraya menangisi jiwa suciku yang telah kalah oleh kejahatan
“lebih baik aku segera pergi. Biar hujan yang menghapuskan jejakku dari sini”
Aku pun berjalan lugnlai meninggalkan sekolahku...
membiarkan jejak2 tragedi terhapus perlahan

Killing is fun

Kamis, 14 Juli 2011

Akibat pilih-pilih

Not based on true story
not to offend anyone
===========================================================
Sebuah kelas, baik kelas 1 SD sekalipun, tidak akan bisa tercampur 100%..
paling anggota2 kelas akan terpecah2 menjadi beberapa kelompok ...
kamu bisa buktikan sendiri... kalau kamu yakin kelasmu bukan kelas seperti yang kukatakan, aku tidak yakin, dan tidak akan pernah yakin...
***
(jam pelajaran matematika)
"Boleh aku gabung dengan kelompok kalian" tanyaku
"Cari yang lain aja.. kelompok kami sudah penuh"
Sudah kuduga.. kelompok itu anggotanya pasti itu2 saja. Mereka tidak akan pernah membuka diri terhadap anggota lain.
Mereka hanya memedulikan anggota mereka saja.
Misalnya saat awal perkenalan kelas. Mereka ribut sendiri kalau bukan anggota mereka yang maju.
Tapi lain halnya jika anggota kelompok mereka yang maju.. mereka pasti akan diam menyimak dan memberi tanggapan2...
Hah, mereka juga bahkan tidak mau mendengarkan orang yang bukan dari kelompok mereka.. keterlaluan..
Yang paling parah, mereka hanya bersikap baik pada teman2 mereka...
Jaman benar2 sudah menyebalkan...

Roda tidak pernah berhenti berputar
Teman2mu pun tidak akan selalu disampingmu...
dan aku percaya itu..
sampai saat itu tiba...

***

"Waah, catatan matematikaku ketinggalan di kelas " kata Mely. "padahal sudah sore.. aku ambil saja"
ia melangkah ke dalam sekolah, mengambil buku catatannya.
Mely adalah anggota kelompok "sok" itu. Sikapnya benar2 sama dengan yang aku sebutkan di atas, bahkan lebih parah
Saat akan keluar sekolah melintasi lapangan, ia tersandung paku yang cukup besar yang menancap di lapangan.
Kakinya terkilir cukup dalam, dan ia tidak bisa berdiri.
Saat itu aku dan Riana melintas..
hmm, ada orang sialan ini .. pikirku.. apa yang dia lakukan di sini..?
Riana sedang HPan, kami melintasinya tanpa berkata apa2..
"Hei, tolong aku Vic. Kakikku terkilir, aku tak bisa berdiri"
Hah, kalau ada butuh saja kamu baru panggil namaku.
Riana terus berkutat dengan HPnya sambil berdiri di sampingku.. ia tidak tau kalau Mely sialan ini sedang minta tolong pada kita.. entah tidak tau atau pura2 tidak tau.
Terlintas di pikiranku untuk menolong.. tapi aku bukan manusia yang sebaik itu...
dia harus dapat pelajaran.. kataku licik dalam hati..
"Ngapain aku harus nolong kamu?"
"Kita kan sekelas.. kan harus tolong menolong"
aku tertawa... makin keras...
"Tolong menolong? apa katamu? kamu sendiri nggak peduli sama anak2 lain diluar kelompokmu. Hah?"
"Itu karena kalian nggak mau aktif..."
"Salah!" kataku emosi " kami sudah berusaha aktif, aku bahkan kemarin lusa minta jadi kelompokmu..
tapi kamu tetap tidak mengijinkan aku.. kalian orang2 sok mentang2 terkenal di kelas nggak mau berteman dengan orang2 pasif kayak kami yah "
"Oke, aku telepon aja, minta bantuan! aku gak butuh bantuanmu" katanya, mengeluarkan HP.
"Hah, silakan" kataku tersenyum sinis..

"halo? pak Aning? (supir) tolongin dong, aku jatuh nih di sekolah, ada temanku yang gak mau bantuin nih" katanya sambil melotot ke arahku. Ingin kutendang wajah sialannya itu.
"Maaf, non, bapak harus jemput papa kamu yang baru pulang di bandara"
telepon diputus..
"Jangan senyum2 kamu. aku masih punya banyak teman" katanya
"Arif? bisa tolongin aku.."
"sorry nggak bisa, aku lagi jalan sama cewek aku.." telepon diputus
"dasar nggak guna" katanya, menekan nomor lain..
"Rina, tolongin aku dong, aku jatuh di sekolah"
"Jangan manja Mel, aku lagi ada urusan, kututup ya" telepon diputus...

"gimana? udah jera? temanmu nggak selamanya bisa nolong kamu." kataku, tertawa jahat.
Mely panas. Ia mencoba berdiri, tapi terjatuh..
aku tertawa makin keras
"Ri, yuk jalan.. " kataku sambil menarik Riana menjauhi Mely..
"Aku bilangin yah" kataku seraya berbalik "Kami orang2 pasif memang pasif di kelas, tapi kami masih bisa membuka diri dan berteman dengan yang lain. Mereka pasti mau nolong kami. Introspeksi diri dong"
kataku menjauh.. tertawa... dan tertawa terus...

***
Esok paginya ada berita Mely dilarikan kerumah sakit karena terkena tetanus akut.. kurang lebih begitu..
supirnya lupa menjemput, dan tak ada seorangpun yang ingat ia belum pulang karena semua sibuk.
Ia sempat mencoba memanggil satpam, tapi satpam sudah pulang dan mengunci pintu sekolah..

(rumah sakit)
"Maaf, bapak, ibu, tetanus di kaki anak anda karena terkilir paku sudah cukup parah.infeksinya menyebar sampai ke paha. Tak ada cara lain selain mengamputasi kaki kirinya" Kata dokter yang menangani infeksi Mely lewat telepon kepada orang tua Mely
"Cepatlah, berapa biayanya? kami harus berbisnis dengan orang penting sekarang. Akan kami bayar setelah urusan kami di London selesai, terimakasih" telepon diputus..

***
Sejak kakinya diamputasi, Mely tak pernah lagi datang ke sekolah
entah karena minder, atau malas bertemu aku...
mungkin dia shock melihat sisi gelapku
dan ujung2nya aku mendengar berita ia gantung diri di kamarnya karena sudah tak kuat dengan rasa sakit akibat diamputasi...

Ia telah mendapat cukup pelajaran.. ya, cukup..
Aku hanya tertawa... terus tertawa dalam hati...

Selasa, 12 Juli 2011

Tragedi MOS dan boneka vodoo

(not based on true story, dan tidak menyinggung baik MOS, OSIS, maupun sekolah manapun). Dan tidak mengandung hal2 zionisme dan okultisme.
=========================================================
"Capeknya.." kataku.. "padahal hari ini hanya berlatih yel yel saja sudah lelah begini.. bagaimana hari senin nanti yah? ini baru Pra - MOS"..
"iya.. belum lagi kakak2 yang nggak ngasih toleransi itu, malah marahin kita habis2an karena gak semangat" sahut sahabatku, Nadia.
"Kita nggak punya alasan untuk semangat kan? " tanyaku seraya menggunting2 kardus..
Nadia hanya terdiam.. 
***

Bel masuk telah berbunyi pada hari Senin. Aku sudah duduk di tempatku ketika kulihat tempat duduk Nadia kosong. Apa dia tidak masuk? tanyaku. Ternyata ia terlambat. Ia masuk kelas dan mencari2 tempat duduknya. Wajar saja, tempat duduk kami sudah dipindah2 oleh kakak OSIS.. untuk sementara..
tapi kelihatannya ia tidak senang, karena tempatnya jadi terpisah denganku..
ia hanya diam sepanjang waktu..
Sepertinya itu bukan puncak "kesialan" Nadia. Pada saat pelatihan baris berbaris ia sudah banyak membuat kesalahan. Makhlum, mungkin ia mengerjakan semua tugas MOS sendirian hingga jam 4 pagi, sehingga ia kelelahan dan tak dapat fokus. Akibatnya kami dihukum membersihkan beberapa bagian lapangan dan ia dimarahi oleh teman2 sekelas karena nggak becus.
"Kamu gimana sih? padahal aku harus pulang sekarang"
"aku harus ikut antar jemput.. kalau nggak pulang sekarang, aku bisa ditinggal"
satu persatu meninggalkan kami..tinggal kami berdua menyapu dalam diam..
Nadia mengucapkan kata2 yang tidak jelas dengan sangat pelan seraya berbisik... yang jelas bukan padaku..
***

"Zer? kamu dimana? Zer?" kakak pembina OSIS kelasku dan teman2 di kelasku sibuk mencari kakak OSIS yang lain pagi ini. Suasana tegang, dari tadi kak Zerly tidak terlihat, padahal tidak ada pemberitahuan apapun tentang ketidak hadirannya. Saat pencarian aku ingin ke belakang. Aku minta izin sejenak pada kakak OSIS untuk ke toilet. Dan aku menemukan sesuatu yang aneh..
Boneka kecil yang ditancapkan dengan paku ke tembok toilet. Aku langsung keluar dari toilet, turun ke toilet lantai 2..
***

2 hari MOS berlanjut.. semakin banyak kakak2 OSIS yang menghilang. Dan malah ada kakak yang mual saat pembinaan, pingsan mendadak dan berhalusinasi. Ini hari terakhir. Sialnya hari ini aku ingin ke belakang lagi, sedangkan lantai 2 kamar mandinya penuh, terpaksa aku ke kamar mandi lantai 3 dengan Nadia. sampai di sana aku sangat kaget karena boneka di sana bertambah jadi 7, sesuai dengan jumlah kakak yang menghilang.
"Hei Nadia, ini jangan2..."
"....." Nadia tidak mengucapkan apapun.. ia mengeluarkan sebuah tali dari saku roknya
"Nadia.. ini.. ini jangan2..."
"Boneka vodoo". katanya. "Aku akan melenyapkan seluruh kakak2 OSIS, berikut para siswa angkatan kita yang telah menyengsarakan aku."
"Nggak boleh begitu.. Nadia!" kataku mengguncang2 badannya. Bahunya dingin
" Kamu bisa kok, menyelamatkan mereka" katanya lirih.. sambil tersenyum kecil
"Ba..bagaimana??"
" Cabut salah satu paku pada boneka itu, tukar dengan nyawamu"..
Jantungku berdebar.. makin kencang...
"Kau punya 3 pilihan" katanya melanjutkan "mati di sini karena menjadi saksi" katanya sambil mengangkat talinya " mencabut salah satu paku pada boneka, atau menunggu bonekamu tertancap di dinding"
Aku ketakutan... kakiku tak mau bergerak.. 
Aku tak mau memilih salah satu dari ketiganya..
Aku berlari... menjauhi Nadia...
berlari sejauh mungkin, menghapus jejakku dari sekolah dan melupakan tragedi MOS ini...
sampai sekolah ini hilang dari pandangan.........

Rabu, 06 Juli 2011

Ini soal persahabatan, penantian.. dan molten cake..

Entah sudah berapa lama aku duduk di sini..
Kurasakan jari2ku sudah membeku..
Aku mengamat2i gelasku yang terbuat dari sterofoam.. mengangkatnya, meletakkanya kembali..
Aku tak dapat diam sedetik pun..
Tanganku meraih sedotan, menekuk nekuknya beberapa kali...
Sampai berapa lama aku harus menunggu?
Kualihkan pandangan ke tangga2 eskalator yang bergerak naik turun, terus berputar..
mungkin seperti kehidupan manusia.. tapi sekarang aku sudah tidak merasakan naik turunnya kehidupan..
Kapankah engkau akan datang sobat?
-------------------------------------------------------------------------
Sekitar seminggu yang lalu, di tempat yang sama

"Ngg? kamu menunggu siapa?" pertanyaanmu mengagetkan lamunanku
" Aku tidak menunggu siapa siapa.. aku hanya lari dari rumah, dan sekarang aku bingung harus bagaimana"
kulihat nampan di tanganmu. baru 5 jam sejak terakhir makan siang aku sudah lapar, pikirku..
"Ah, kamu lapar ya? "
"Tidak, ngg.. nggak usah repot2" kataku. Nggak enak kalau meminta dari orang yang nggak dikenal
"Tak usah sungkan, kemarilah, makan denganku " katamu.
"Ah.. tidak, terimakasih" aku memalingkan wajah..
"Baiklah, keras kepala juga kamu, nih" kamu menyodorkan sebungkus roti hangat padaku
"tapi.."
"sudah, ambil saja, ok?" katamu meletakkan bungkusan itu diatas mejaku..

Kubuka bungkusan itu. Dari dalamnya terlihat kue cokelat kecil yang hangat namun kecil..
Seperti kebaikanmu yang kecil, tapi bagiku terasa hangat..
Aku menggigitnya.. perlahan..
Rasa manis dan lembut sangat menyenangkanku. Aku jadi kenyang.. dan merasa senang..
Perasaan yang aneh.. sangat menyenangkan..

"Kamu kenyang?"
"Terimakasih" kataku.. malu.. aku menunduk.. aku tidak punya apapun untuk membalasnya..
"Hei, kenapa? sudahlah, tidak usah bingung, harganya hanya 5000 kok (+ pajak sih)"
seakan bisa membaca pikiranku, kamu berkata begitu..
"maaf, aku tak bisa membalas kue ini" kataku perlahan
" Kalau begitu, kamu berteman saja denganku. Aku nyaris bunuh diri karena kesepian"
Akhirnya aku berteman denganmu, Erina..

-----------------------------------------------------------------------------------
3 hari yang lalu, di sini, di meja yang sama

"An, kita bertemu 4 hari yang lalu juga di sini kan? kangennya" katamu, sambil membawa nampan seperti 4 hari yang lalu, dan sebungkus molten cake, bukan untukmu, untukku
"Erina, terimakasih, kalau kamu tidak ada, aku juga bisa2 gantung diri saat itu" kataku..
" ini, molten cake kesukaanmu, ayo makanlah" katanya
Selama ini dia selalu memberiku uang dalam pelarianku, sehingga aku bisa bertahan sampai sekarang
kuambil kue kecil itu. Rasa manis dan lembutnya selalu sama
Kris melintas.. dan sejak saat itulah, setan merobekkan persahabatan kami..

Erina mulai memandangiku .. tajam.. sampai aku balik bertanya padanya
"ngg, kenapa Erina?" tanyaku.
"Perebut"
"a..apanya Er?"
"jangan pura2 nggak tahu ya" katanya menggebrak meja
mata2 memandangi kami
"apa? kenapa? " tanyaku.. aku mulai takut..
molten cake di mulutku mulai terasa pahit..
"Kamu.. cewek kurang ajar" katanya menjambak rambutku " Aku sudah kasih kamu uang, belum puas hah?? dasar tak tahu diri!!" ia memukulkan mukaku ke meja
Orang2 tetap hanya bisa memandang
"Tolong" kataku
"percuma minta tolong pecundang, kamu sudah merebut Kris dariku, kurang ajar" dia terus membentur2kan kepalaku.. hidungku mulai berdarah.. tapi dia sahabatku, masa aku harus memukulnya juga..kumohon sadarlah Er!!aku hanya berbincang2 dengan Kris, itupun karena kami tak sengaja berpapasan
Aku menahan tangannya, berusaha meronta.. namun kemarahannya membuatnya gelap mata
"Kau tahu apa itu dendam?? kau tahu apa itu sakit hatii??
Padahal dia temanku sejak kecil, kau tau apa sih?? kita baru bertemu 4 tahun yang lalu"
Suram.. gelap..
tiba2 ia mengambil pisau di nampan dan..
berakhirlah riwayatku...

------------------------------------------------------------------------
Di sini, dalam kegelapan..
Aku terus menunggumu
Menunggumu sadar.. dan menemuiku
Walaupun food court ini sudah gelap
Walaupun tangga2 eskalator sudah berhenti
Tidak ada yang menyadari kehadiranku..

Di sini, aku menunggu
dengan sebungkus molten cake di hadapanku
Yang sudah dingin dan pahit..
ibarat kekejamanmu....

Rabu, 29 Juni 2011

Korban perang

Masa masa perang dunia kedua, tahun 1940,  Jerman
Di tengah lapangan rumput yang becek bekas peperangan, dalam hujan rintik rintik, aku berlari2 bersama kakakku, Heinz.Mencari tempat berteduh untuk sementara. Kami menemukan sebuah pohon yang jarang daunnya, tapi masih lebih baik untuk berteduh di sana.
"Kakak, aku kedinginan." kataku. Wajar saja, saat ini kami sedang mengenakan pakaian tipis, dan berlubang2. Kotor, dan compang camping.
" Sabarlah, bertahanlah sebentar lagi, sampai perang ini berakhir" kata kakakku dengan mata teduhnya. Ia mendekapku.
"Kakak, kenapa kakak yakin perang ini dapat berakhir?" tanyaku, merapatkan diri.
" Setiap manusia pasti butuh kedamaian , Lious , jika tiba saatnya, mereka pasti akan berdamai satu sama lain, hanya saja, saat ini, kita belum mengetahui waktu pastinya" katanya.
Aku dan kakakku berbeda 10 tahun. Di mataku ia tampak begitu dewasa, anggun dan tenang.
"Kak.. apakah Surga itu ada?"
"Tentu saja, Lious, di sana ayah dan ibu akan mengajak kita berjalan jalan mengelilingi kota yang indah. Dan jalan2 di sana terbuat dari emas. Nenek pernah menceritakannya padaku dulu, sebelum meninggalkan dunia ini". Ia menatap langit.
" Ibu, ayah, dan nenek pasti senang berada di sana" kataku.. mendesah sambil menerawang ke langit.
Hujan perlahan2 berhenti.
" Hujannya berhenti kak"
" Iya, lihat, itu pelangi. Indah bukan?"
"Iya, cantik sekali, berwarna warni"
" Pelangi itu selalu muncul setiap hujan reda. Kita bisa mengartikannya, walaupun kita tertimpa kesedihan , itu tidak akan berlangsung selamanya. Suatu saat kita pasti merasakan kebahagiaan"
....
"Maaf kak, aku lapar"
Kakakku memandangku iba
"Makan roti ini ya"
" Tapi, ini bekal kita yang terakhir"
"Kakak tahu, tapi kakak juga tahu, kalau Tuhan pasti akan memberkati kita. Ia tidak akan membiarkan kita kelaparan, Lious" diberikannya rotinya padaku.
"Kita bagi dua saja kak" kataku, mematahkan roti yang sudah keras dan dingin itu. Saat itu perutku yang kosong berbunyi.
"Lious, sudahlah. Nikmati saja berkatmu. Kamu tidak usah pikirkan kakak. Kakak sudah kenyang"
"Benarkah kak?" tanyaku memastikan.
Ia mengangguk lemah "lihat ini, perut kakak sudah buncit" katanya, sambil memegangi perutnya.
Aku tahu, dia memegangi perutnya karena lapar, dan perut buncitnya itu karena busung lapar.
"Sudah cepat makan saja"
Akhirnya aku memakan roti itu cepat2, tak ingin melihat penderitaan kakakku bertambah.
Kamipun melanjutkan perjalanan.
Sialnya waktu itu kabut turun.
Kami tidak bisa melihat sekeliling.
Tiba2..
"Tembaaak"
Ini medan pertempuran!
Terdengar bunyi peluru dan granat dimana mana
"Lious, awas!!"teriak kakakku. Ia langsung menelungkup menutupiku dari semua serangan.

***

"Kak, kakak, sadarlah kak" kataku sambil setengah menangis, mengguncang2 tubuh kakakku"
matanya terbuka, namun lukanya parah. Dia sekarat, berlumuran darah
"Li.. Lious.." katanya terbata bata
"Kak jangan bicara lagi, kumohon, akan kulakukan apapun, tapi jangan tinggalkan aku Kak".
" Tidak perlu Lious. Kamu ada di sini saja sudah sangat... uhuk uhuk" batuknya berdarah
"Kakak, jangan bicara lagi..."
"Lious,kamu sudah tidak perlu mencemaskan kakak.Kamu adik yang baik. Teruslah hidup. 6 tulang rusuk kakak sudah patah, tulang betis dan tulang ubun ubun kakak juga sudah retak. Hidup di dunia ini malah akan menambah ... uhuk.. penderitaanku.."
"Kakak! diamlah.."
"Lious.. teruslah... hidup..." katanya sembari menghembuskan napas terakhir...
"KAKAAAAAAK" aku menangis dan berteriak sejadi jadinya. Aku tidak memedulikan sekitarku.
"Ini tidak adil, ini tidak adil! Harusnya Tuhan tidak memanggil kakak. Ia sangat baik! harusnya tidak beginii!!!"
Setelah berhenti menangis, aku mengusap2 mataku, berharap ini bukan mimpi. Aku mengguncang2 tubuh kakakku, berharap dia bangun dan tertawa riang padaku. Tapi aku sadar,
ini KENYATAAN.
Aku tak sanggup melihat mayat kakakku. Aku berlari dan terus berlari, masuk ke hutan. Aku mencari sebuah ranting, aku gigit dan garuk sampai gusi dan jariku berdarah, setelah kurasa tajam, aku menghunuskannya ke jantungku. Tiba2 tanganku berhenti. Suara kakakku mengiang ngiang.
"Lious, jangan bunuh diri seperti ini.Bunuh diri akan membuatmu masuk neraka, tersiksa berkali lipat. Terlebih lagi kau tidak akan bisa melihat kami lagi" katanya
Aku sadar, kakak lebih bahagia disana, makan roti, melihat pelangi, dan berkumpul bersama ayah dan ibu. Itu lebih baik. Tuhan memanggil kakakku karena tugasnya di bumi ini telah selesai.
Aku mengusap air mataku, lalu melanjutkan pengembaraanku di tengah asap mesiu..

Selasa, 28 Juni 2011

The Snow Girl

"Sebaik apapun kamu , tidak akan bisa mencairkan hatiku"

Kutatap wajah dinginnya. Pucat seperti membeku. Tanpa ekspresi
Dia berbalik menatapku dengan mata bekunya yang menerawang jauh
Seakan meramal kedalam mataku.

"Sharon, sudah kubilang untuk tidak menemuiku malam ini"
Ia mengatakannya sayup sayup di tengah keheningan malam bersalju ini
" Entahlah Cathy, tapi aku punya.. emm.. firasat buruk.."
"Tentangku? ya itu benar. Makanya sudah kubilang untuk tidak menemuiku kan?" katanya dingin.
" Ah.. aku.."
"pergilah. jangan sok baik di depanku" katanya terus melangkah
Kata kata teman yang baru kukenal pagi itu membuatku mematung. Gadis berambut cokelat panjang yang bersama2 denganku menunggu bus di halte bus pagi ini, seperti orang lain.Sambil memandanginya dari jauh, aku bergumul sendiri. Kakiku terasa dingin. Firasat ini semakin nyata.
Sebelum bayangannya hilang di tengah salju, aku mengejarnya.

"Tunggu, Cathy! jangan kesana"
"Pergi, aku tidak butuh nasihatmu"
"Tapi.."
"Pergilah, aku muak melihatmu"

Baik, aku rasa sudah tidak ada harapan untuk menghentikannya... tinggal ini yang tersisa
" Cathy, aku senang bertemu denganmu" teriakku pada sosoknya yang makin menjauh.
Ia berhenti, mengangguk kemudian berlari dan terus berlari tanpa berbalik sedikitpun.
Ya Tuhan, aku hanya mengharap yang terbaik dari Cathy, aku hanya berharap tidak terjadi apa2 padanya.

Harapanku tak terwujud.

Esok harinya mayat Cathy ditemukan membeku di dasar jurang. Ia sudah lelah rupanya. Ya berkali2 badai cobaan menerpanya. Orangtuanya bercerai, HPnya dicuri, nilainya memburuk, dan yang paling parah, ia diputuskan. Sepertinya akal sehatnya telah hilang sama sekali. Segala perkataanku tidak ia hiraukan..
Entah, semoga nyawanya diterima di surga.
Tapi aku tidak yakin, aku tidak berani memikirkan rohnya yang tersiksa selamanya di neraka. Yang mengalami siksaan 10x lebih berat dari yang ia tanggung di bumi.

Aku terlambat. Seandainya aku sempat bertemu dengannya kemarin, mungkin dia bisa selamat.
Aku terlambat, pikiran setan telah menguasainya dan menyeretnya bunuh diri.
Aku teman yang payah. Aku berusaha menolongnya kemarin, dan ia tak tertolong sekarang..
Membeku di keheningan salju, bersama wajahnya yang tanpa ekspresi.
Aku hanya bisa menatap melalui layar, mayatnya yang tertutup salju bersama wajah pucatnya yang membeku